Arti Pestisida

Pestisida




Pestisida atau Pembasmi hama adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest (hama) yang diberi akhiran -cide (pembasmi). Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu. Pestisida biasanya beracun hingga sering disebut sebagai racun.

Pestisida juga diartikan sebagai substansi kimia dan bahan lain yang mengatur dan atau menstimulir pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman. Sesuai konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penggunaan Pestisida ditujukan bukan untuk memberantas atau membunuh hama, namun lebih dititiberatkan untuk mengendalikan hama sedemikian rupa hingga berada dibawah batas ambang ekonomi atau ambang kendali. Dalam pengendalian hama tanaman secara terpadu, Pestisida adalah sebagai alternatif terakhir. Belajar dari pengalaman, Pemerintah saat ini tidak lagi memberi subsidi terhadap Pestisida. Namun kenyataannya di lapangan petani masih banyak menggunakannya. Menyikapi hal ini, yang terpenting adalah baik pemerintah maupun swasta terus menerus memberi penyuluhan tentang bagaimana penggunaan Pestisida secara aman dan benar. Aman terhadap diri dan lingkungannya, benar dalam arti 5 tepat (tepat jenis Pestisida, tepat cara aplikasi, tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat takaran).

Jenis-jenis Pestisida berdasarkan fungsi dan kata asalnya :
  1. Insektisida, berasal dari kata latin insectum yang berarti potongan, keratan atau segmen tubuh. Insektisida adalah Pestisida yang dipakai untuk membunuh serangga. Insektisida dapat mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, tingkah laku, perkembangbiakan, kesehatan, sistem hormon, sistem pencernaan, serta aktivitas biologis lainnya hingga berujung pada kematian serangga pengganggu tanaman. Serangga pengganggu tanaman ini seperti belalang, kepik, wereng, dan ulat. Insektisida juga digunakan untuk memberantas serangga di rumah, perkantoran atau gudang, seperti nyamuk, lalat, kecoa, dan semut. Insektisida dapat dibedakan menjadi golongan organik dan anorganik. Insekstisida organik mengandung unsur karbon sedangkan Insektisida anorganik tidak. Insektisida organik umumnya bersifat alami, yaitu diperoleh dari makhluk hidup sehingga disebut Insektisida hayati. Contoh Insektisida : Blattanex Cockroach Gell, Crackdown, Ficam, Greendivos, Hypro 100EC, K-Othrine, Maxforce Forte, Maxforce Quantum, QuickBayt Spray, Resigen, Solfac, Bistar 25EC, Mustang 25EC, Concord, Delfox 25EC, Procon 25EC, Provap 200EC, Lashio25EC, Seruni 100EC, dan lain-lain.

  2. Blattanex Cockroach GellMaxforce QuantumMaxforce ForteQuickBayt Spray 10WG

  3. Rodentisida, berasal dari kata Yunani rodera yang berarti pengerat. Rodentisida adalah Pestisida yang digunakan untuk memberantas hama berupa hewan pengerat seperti tikus. Lazimnya diberikan sebagai umpan yang sebelumnya dicampur dengan beras atau jagung. Hanya penggunaannya harus hati-hati, karena dapat mematikan juga hewan ternak yang memakannya. Contoh Rodentisida : Stratagem 0,005BB, Contrac 0,005, Racumin Powder, Racumin RMB, Racumin Sachet, dan lain-lain.

  4. Stratagem 0,005BBRacumin PowderContrac 0,005Racumin RMB

  5. Termisida, berasal dari kata Yunani termes yang berarti serangga pelubang daun. Berfungsi untuk membunuh rayap. Contoh Termisida : Premise 200SL, Agenda 25EC, Cislin 25EC, Sentricon Recruit AG.

  6. Premise 200SLAgenda 25ECCislin 25EC

  7. Fungisida, berasal dari kata latin fungus atau kata Yunani spongos yang berarti jamur. Fungisida adalah Pestisida untuk memberantas/mencegah pertumbuhan jamur/cendawan seperti bercak daun, karat daun, busuk daun, dan cacar daun. Contoh : tembaga oksiklorida, tembaga oksida, carbendazim, organomerkuri, dan natrium dikromat. 
  8. Bakterisida, berasal dari kata latin bacterium atau kata Yunani bacron. Bakterisida adalah Pestisida untuk memberantas bakteri atau virus. Salah satu contoh Bakterisida adalah tetramycin yang digunakan untuk membunuh virus CVPD yang meyerang tanaman jeruk. Umumnya bakteri yang telah menyerang suatu tanaman sukar diberantas. Pemberian obat biasanya segera diberikan kepada tanaman lainnya yang masih sehat sesuai dengan dosis tertentu. 
  9. Nematisida, berasal dari kata latin nematoda atau bahasa Yunani nema yang berarti benang. Nematisida adalah Pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman berupa nematoda (cacing). Hama jenis ini biasanya menyerang bagian akar dan umbi tanaman. Nematisida biasanya digunakan pada perkebunan kopi atau lada. Nematisida bersifat dapat meracuni tanaman, jadi penggunaannya 3 minggu sebelum musim tanam. Selain memberantas nematoda, obat ini juga dapat memberantas serangga dan jamur. Dipasaran dikenal dengan nama DD, Vapam, dan Dazomet.
  10. Herbisida, berasal dari kata latin herba yang berarti tanaman setahun. Herbisida adalah Pestisida yang digunakan untuk membasmi tanaman pengganggu (gulma) seperti alang-alang, rerumputan, eceng gondok, dan lain-lain. Contoh : ammonium sulfonat dan pentaklorofenol.
  11. Akarisida, berasal dari kata akari yang dalam bahasa Yunani berarti tungau atau kutu. Akarisida sering juga disebut sebagai Mitesida. Fungsinya untuk membunuh tungau atau kutu. 
  12. Algisida, berasal dari kata alga yang dalam bahasa latinnya berarti ganggang laut. Berfungsi untuk melawan alga.
  13. Larvisida, berasal dari kata Yunani lar. Berfungsi untuk membunuh ulat atau larva.
  14. Molluksisida, berasal dari kata Yunani molluscus yang berarti berselubung tipis lembek. Berfungsi untuk membunuh siput.
  15. Ovisida, berasal dari kata latin ovum yang berarti telur. Berfungsi untuk membunuh telur.
  16. Pedukulisida, berasal dari kata latin pedis berarti kutu, tuma. Berfungsi untuk membunuh kutu atau tuma.
  17. Piscisida, berasal dari kata Yunani piscis yang berarti ikan. Berfungsi untuk membunuh ikan.
  18. Predisida, berasal dari kata Yunani praeda yang berarti pemangsa. Berfungsi untuk membunuh pemangsa (predator).
  19. Silvisida, berasal dari kata latin silva yang berarti hutan. Berfungsi untuk membunuh pohon.
  20. Avisida, berasal dari kata avis yang dalam bahasa latinnya berarti burung. Berfungsi sebagai pembunuh atau zat penolak burung serta pengontrol populasi burung. 

  21. Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973 Tentang Pestisida 
    Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan alam khususnya kekayaan alam hayati, dan supaya Pestisida dapat digunakan efektif, maka peredaran, penyimpanan dan penggunaan Pestisida diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973. 
    Dalam peraturan tersebut antara lain ditentukan bahwa: 
    1. Tiap pestisida harus didaftarkan kepada Menteri Pertanian melalui Komisi Pestisida untuk dimintakan izin penggunaannya 
    2. Hanya pestisida yang penggunaannya terdaftar dan atau diizinkan oleh Menteri Pertanian boleh disimpan, diedarkan, dan digunakan 
    3. Pestisida yang penggunaannya terdaftar dan atau diizinkan oleh Menteri Pertanian hanya boleh disimpan, diedarkan dan digunakan menurut ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam izin Pestisida itu :
      • Tiap pestisida harus diberi label dalam bahasa Indonesia yang berisi keterangan-keterangan yang dimaksud dalam surat Keputusan Menteri Pertanian No. 429/ Kpts/Mm/1/1973 dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam pendaftaran dan izin masing-masing pestisida. 
    4. Dalam peraturan pemerintah tersebut yang disebut sebagai pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk:
      • Memberantas atau mencegah hama atau penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman atau hasil pertanian
      • Memberantas gulma 
      • Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan tanaman yang tidak diinginkan 
      • Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman, kecuali yang tergolong pupuk 
      • Memberantas atau mencegah hama luar pada ternak dan hewan piaraan 
      • Memberantas atau mencegah hama air 
      • Memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah tangga 
      • Memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang dilindungi, dengan penggunaan pada tanaman, tanah dan air.

    Sesuai dengan definisi tersebut di atas maka suatu bahan akan termasuk dalam pengertian pestisida apabila bahan tersebut dibuat, diedarkan atau disimpan untuk maksud penggunaan seperti tersebut di atas. Sedangkan menurut The United States Federal Environmental Pesticide Control Act, pestisida adalah semua zat atau campuran zat yang khusus untuk memberantas atau mencegah gangguan serangga, binatang pengerat, nematoda, cendawan, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama kecuali virus, bakteria atau jasad renik yang terdapat pada manusia dan binatang lainnya. Atau semua zat atau campuran zat yang digunakan sebagai pengatur pertumbuhan tanaman atau pengering tanaman.

    Formulasi Pestisida
    Pestisida sebelum digunakan harus diformulasi terlebih dahulu. Pestisida dalam bentuk murni biasanya diproduksi oleh pabrik bahan dasar, kemudian dapat diformulasi sendiri atau dikirim ke formulator lain. Oleh formulator baru diberi nama. 
    Berikut ini beberapa formulasi Pestisida yang sering dijumpai: 
    1. Cairan emulsi (Emulsifiable Concentrates/Emulsible Concentrates)
      Pestisida yang berformulasi cairan emulsi meliputi Pestisida yang di belakang nama dagang diikuti oleb singkatan ES (Emulsifiable Solution), WSC (Water Soluble Concentrate). B (Emulsifiable) dan S (Solution). Biasanya di muka singkatan tersebut tercantum angka yang menunjukkan besarnya persentase bahan aktif. Bila angka tersebut lebih dari 90 persen berarti Pestisida tersebut tergolong murni. Komposisi Pestisida cair biasanya terdiri dari tiga komponen, yaitu bahan aktif, pelarut serta bahan perata. Pestisida golongan ini disebut bentuk cairan emulsi karena berupa cairan pekat yang dapat dicampur dengan air dan akan membentuk emulsi. 
    2. Butiran (Granulars)
      Formulasi butiran biasanya hanya digunakan pada bidang pertanian sebagai insektisida sistemik. Dapat digunakan bersamaan waktu tanam untuk melindungi tanaman pada umur awal. Komposisi Pestisida butiran biasanya terdiri atas bahan aktif, bahan pembawa yang terdiri atas talek dan kuarsa serta bahan perekat. Komposisi bahan aktif biasanya berkisar 2-25 persen, dengan ukuran butiran 20-80 mesh. Aplikasi Pestisida butiran lebih mudah bila dibanding dengan formulasi lain. Pestisida formulasi butiran di belakang nama dagang biasanya tercantum singkatan G atau WDG (Water Dispersible Granule). 
    3. Debu (Dust)
      Komposisi Pestisida formulasi debu ini biasanya terdiri atas bahan aktif dan zat pembawa seperti talek. Dalam bidang pertanian Pestisida formulasi debu ini kurang banyak digunakan, karena kurang efisien. Hanya berkisar 10-40 persen saja apabila pestisida formulasi debu ini diaplikasikan dapat mengenai sasaran (tanaman). 
    4. Tepung (Powder)
      Komposisi Pestisida formulasi tepung pada umumnya terdiri atas bahan aktif dan bahan pembawa seperti tanah hat atau talek (biasanya 50-75 persen). Untuk mengenal Pestisida formulasi tepung, biasanya di belakang nama dagang tercantum singkatan WP (Wettable Powder) atau WSP (Water Soluble Powder). 
    5. Oli (oil)
      Pestisida formulasi oli biasanya dapat dikenal dengan singkatan SCO (Solluble Concentrate in Oil). Biasanya dicampur dengan larutan minyak seperti xilen, karosen atau aminoester. Dapat digunakan seperti penyemprotan ULV (Ultra Low Volume) dengan menggunakan atomizer. Formulasi ini sering digunakan pada tanaman kapas. 
    6. Fumigansia (Fumigant)
      Pestisida ini berupa zat kimia yang dapat menghasilkan uap, gas, bau, asap yang berfungsi untuk membunuh hama. Biasanya digunakan di gudang penyimpanan.
    Kimia Pestisida
    Pestisida tersusun dan unsur kimia yang jumlahnya tidak kurang dari 105 unsur. Namun yang sering digunakan sebagai unsur Pestisida adalah 21 unsur. Unsur atau atom yang lebih sering dipakai adalah carbon, hydrogen, oxigen, nitrogen, phosphor, chlorine dan sulfur. Sedangkan yang berasal dari logam atau semi logam adalah ferum, cuprum, mercury, zinc dan arsenic.
    1. Sifat pestisida
      Setiap Pestisida mempunyai sifat yang berbeda. Sifat Pestisida yang sering ditemukan adalah daya, toksisitas, rumus empiris, rumus bangun, formulasi, berat molekul dan titik didih. 
    2. Tata Nama Pestisida
      Pengetahuan Pestisida juga meliputi struktur dan cara pemberian nama atau dikenal dengan tata nama. 
    3. Cara Kerja Pestisida
      • Pestisida kontak, berarti mempunyai daya bunuh setelah tubuh jasad terkena sasaran.
      • Pestisida fumigan, berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran terkena uap atau gas
      • Pestisida sistemik, berarti dapat ditranslokasikan ke berbagai bagian tanaman melalui jaringan. Hama akan mati kalau mengisap cairan tanaman.
      • Pestisida lambung, berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran memakan pestisida. 
    Cara Penggunaan Pestisida
    Cara penggunaan Pestisida yang tepat merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan pengendalian hama. Walaupun jenis obatnya manjur, namun karena penggunaannya tidak benar, maka menyebabkan sia-sianya penyemprotan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan Pestisida, di antaranya adalah keadaan angin, suhu udara, kelembapan dan curah hujan. Angin yang tenang dan stabil akan mengurangi pelayangan partikel pestisida di udara. Apabila suhu di bagian bawah lebih panas, Pestisida akan naik bergerak ke atas. Demikian pula kelembapan yang tinggi akan mempermudah terjadinya hidrolisis partikel Pestisida yang menyebabkan kurangnya daya racun. Sedang curah hujan dapat menyebabkan pencucian Pestisida, selanjutnya daya kerja Pestisida berkurang. Hal-hal teknis yang perlu diperhatikan dalam penggunaan Pestisida adalah ketepatan penentuan dosis. Dosis yang terlalu tinggi akan menyebabkan pemborosan Pestisida, di samping merusak lingkungan. Dosis yang terlalu rendah menyebabkan hama sasaran tidak mati. Di samping berakibat mempercepat timbulnya resistensi. 
    1. Dosis Pestisida
      Dosis adalah jumlah Pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk mengendalikan hama tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan dalam satu kali aplikasi atau lebih. Ada pula yang mengartikan dosis adalah jumlah Pestisida yang telah dicampur atau diencerkan dengan air yang digunakan untuk menyemprot hama dengan satuan luas tertentu. Dosis bahan aktif adalah jumlah bahan aktif Pestisida yang dibutuhkan untuk keperluan satuan luas atau satuan volume larutan. Besarnya suatu dosis Pestisida biasanya tercantum dalam label Pestisida
    2. Konsentrasi Pestisida
      Ada tiga macam konsentrasi yang perlu diperhatikan dalam hal penggunaan Pestisida :
      • Konsentrasi bahan aktif, yaitu persentase bahan aktif suatu Pestisida dalam larutan yang sudah dicampur dengan air.
      • Konsentrasi formulasi, yaitu banyaknya Pestisida dalam cc atau gram setiap liter air. 
      • Konsentrasi larutan atau konsentrasi Pestisida , yaitu persentase kandungan Pestisida dalam suatu larutan jadi. 
    3. Alat semprot
      Alat untuk aplikasi Pestisida terdiri atas bermacam-macam seperti knapsack sprayer (high volume) biasanya dengan volume larutan konsentrasi sekitar 500 liter. Mist blower (low volume) biasanya dengan volume larutan konsentrasi sekitar 100 liter. Dan Atomizer (ultra low volume) biasanya kurang dari 5 liter. 
    4. Ukuran droplet
      Ada bermacam-macam ukuran droplet:
      Veri coarse spray lebih 300 µm
      Coarse spray 400-500 µm
      Medium spray 250-400 µm
      Fine spray 100-250 µm
      Mist 50-100 µm
      Aerosol 0,1-50 µm
      Fog 5-15 µm 
    5. Ukuran partikel
      Ada bermacam-macam ukuran partikel:
      Macrogranules lebih 300 µm
      Microgranules 100-300 µm
      Coarse dusts 44-100 µm
      Fine dusts kurang 44 µm
      Smoke 0,001-0,1 µm 
    6. Ukuran molekul hanya ada satu macam, yatu kurang 0,001 µm

    Petunjuk Penggunaan Pestisida
    1. Memilih PestisidaDi pasaran banyak dijual formulasi Pestisida yang satu sama lain dapat berbeda nama dagangnya, walaupun mempunyai bahan aktif yang sama. Untuk memilih Pestisida, pertama yang harus diingat adalah jenis jasad pengganggu yang akan dikendalikan. Hal tersebut penting karena masing-masing formulasi Pestisida hanya manjur untuk jenis jasad pengganggu tertentu. Maka formulasi Pestisida yang dipilih harus sesuai dengan jasad pengganggu yang akan dikendalikan. Untuk mempermudah dalam memilih Pestisida dapat dibaca pada masing-masing label yang tercantum dalam setiap Pestisida. Dalam label tersebut tercantum jenis-jenis jasad pengganggu yang dapat dikendalikan. Juga tercantum cara penggunaan dan bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan. Untuk menjaga kemanjuran Pestisida, maka sebaiknya belilah Pestisida yang telah terdaftar dan diizinkan oleb Departemen Pertanian yang dilengkapi dengan wadah atau pembungkus asli dan label resmi. Pestisida yang tidak diwadah dan tidak berlabel tidak dijamin kemanjurannya. 
    2. Menyimpan PestisidaPestisida senantiasa harus disimpan dalam keadaan baik, dengan wadah atau pembungkus asli, tertutup rapat, tidak bocor atau rusak. Sertakan pula label asli beserta keterangan yang jelas dan lengkap. Dapat disimpan dalam tempat yang khusus yang dapat dikunci, sehingga anak-anak tidak mungkin menjangkaunya, demikian pula hewan piaraan atau temak. Jauhkan dari tempat minuman, makanan dan sumber api. Buatlah ruang yang terkunci tersebut dengan ventilasi yang baik. Tidak terkena langsung sinar matahari dan ruangan tidak bocor karena air hujan. Hal tersebut kesemuanya dapat menyebabkan penurunan kemanjuran Pestisida. Untuk berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu Pestisida tumpah, maka harus disediakan air dan sabun ditergent, beserta pasir, kapur, serbuk gergaji atau tanah sebagai penyerap pestisida. Sediakan pula wadah yang kosong, sewaktu-waktu untuk mengganti wadah Pestisida yang bocor. 
    3. Menggunakan Pestisida
      Untuk menggunakan Pestisida harus diingat beberapa hal yang harus diperhatikan:
      • Pestisida digunakan apabila diperlukan
      • Sebaiknya makan dan minum secukupnya sebelum bekerja dengan Pestisida 
      • Harus mengikuti petunjuk yang tercantum dalam label
      • Anak-anak tidak diperkenankan menggunakan Pestisida, demikian pula wanita hamil dan orang yang tidak baik kesehatannya
      • Apabila terjadi luka, tutuplah luka tersebut, karena Pestisida dapat terserap melalui luka
      • Gunakan perlengkapan khusus, pakaian lengan panjang dan kaki, sarung tangan, sepatu kebun, kacamata, penutup hidung dan rambut dan atribut lain yang diperlukan Hati-hati bekerja dengan Pestisida, lebih-lebih Pestisida yang konsentrasinya pekat. Tidak boleh sambil makan dan minum
      • Jangan mencium Pestisida, karena Pestisida sangat berbahaya apabila tercium 
      • Sebaiknya pada waktu pengenceran atau pencampuran Pestisida dilakukan di tempat terbuka. Gunakan selalu alat-alat yang bersih dan alat khusus 
      • Dalam mencampur Pestisida sesuaikan dengan takaran yang dianjurkan. Jangan berlebih atau kurang 
      • Tidak diperkenankan mencampur Pestisida lebih dari satu macam, kecuali dianjurkan 
      • Jangan menyemprot atau menabur Pestisida pada waktu akan turun hujan, cuaca panas, angin kencang dan arah semprotan atau sebaran berlawanan arah angin. Bila tidak enak badan berhentilah bekerja dan istirahat secukupnya 
      • Wadah bekas Pestisida harus dirusak atau dibenamkan, dibakar supaya tidak digunakan oleh orang lain untuk tempat makanan maupun minuman 
      • Pasanglah tanda peringatan di tempat yang baru diperlakukan dengan Pestisida.
      • Setelah bekerja dengan Pestisida, semua peralatan harus dibersihkan, demikian pula pakaian-pakaian, dan mandilah dengan sabun sebersih mungkin. 

    PETUNJUK KEAMANAN, PERTOLONGAN PERTAMA PADA KERACUNAN

    Petunjuk Keamanan :
    1. Jangan makan/minum atau merokok pada waktu bekerja. 
    2. Pakailah sarung tangan, pelindung tubuh, topeng muka, gunakan pakaian berlengan panjang /celana panjang serta jauhkan dari nyala api pada waktu membuka wadah dan memindahkan pada waktu bekerja 
    3. Sebelum makan, minum atau merokok dan setelah bekerja, cucilah tangan atau kulit yang terkena insektisida ini dengan air sabun, yang banyak, jangan menggunakan insektisida ini 10 hari sebelum tanaman dipanen untuk tanaman pangan. 
    4. Setelah digunakan cucilah dengan air semua peralatan semprot dan pakaian pelindung jangan mencemari kolam, perairan dan sumber air lainnya dengan insektisida ini atau wadah bekasnya. 
    5. Simpan insektisida ini secara tertutup rapat di tempat sejuk dan kering, jauh dari bahan makanan, api, sumber air dan jangkauan anak-anak. 
    6. Rusakkanlah wadah bekasnya, kemudian tanamlah sekurang-kurangnya 0,5 meter di dalam tanah dan jauh dari sumber air.
    Gejala Dini Keracunan :
    1. Kulit atau mata terasa gatal atau terbakar, pusing, sakit kepala, banyak menimbulkan keringat, mual, mencret, badan gemetar, pingsan. 
    2. Apabila satu atau lebih gejala tersebut timbul, segera berhenti bekerja, lakukan tindakan pertolongan pertama dan pergilah ke Puskesmas/dokter terdekat.
    Petunjuk Pertolongan Pertama pada Keracunan :
    1. Tanggalkan pakaian yang terkena insektisida ini. 
    2. Apabila kulit terkena, segera cuci dengan sabun dan air yang banyak. 
    3. Apabila mata terkena, cucilah segera dengan air bersih selama sedikitnya 15 menit. 
    4. Apabila tertelan dan penderita masih sadar, segera usahakan permuntahan dengan memberikan segelas air hangat yang diberi satu sendok garam dapur atau dengan cara menggelitik tenggorokan penderita dengan jari tangan yang bersih sampai cairan muntahan menjadi jernih. 
    5. Jangan memberi sesuatu melalui mulut kepada penderita yang pingsan/tidak sadar. 
    6. Apabila terhisap segera dibawa ke ruangan yang berudara sejuk/segar, apabila perlu berikan pernafasan buatan melalui mulut atau dengan pemberian oksigen. 
    7. Perawatan oleh Dokter Perawatan dilakukan secara simptomatik sesuai dengan gejala yang timbul 

TENTANG HAMA KOTA :



hama nyamuk hama lalat hama kecoa hama tikus hama semut hama rayap